Langsung ke isi
Menu
catatan arsip

Berbagi di Pulau Bertam

· catatan · 4 menit untuk membaca

Catatan komunitas ILUSKA dan Komunitas Liverpool Batam ke Pulau Bertam, 23 Februari 2013 — republikasi dari arsip blog lama.

Catatan ini tulisan ulang dari arsip blog saya yang pertama terbit Sabtu, 23 Februari 2013. Yang saya bereskan hanya salah ketik, paragraf yang terduplikasi, dan sapaan tokoh. Urutan cerita dan datanya masih seperti saat dicatat di lapangan.

Pulau kecil di Belakang Padang#

Bertam salah satu pulau kecil di Kepulauan Riau, masih bagian dari kota Batam, masuk kecamatan Belakang Padang. Penghuni pulau-pulau kecil di sana sering disebut warga suku laut — tempat tinggal mereka di atas laut, dan nafkah hariannya memang melaut.

Dibanding pulau-pulau sekitarnya seperti Gara, Linka, Kasu, dan Seraya, Bertam termasuk yang lebih maju. Tandanya: sebuah Sekolah Dasar sudah berjalan beberapa tahun. Anak-anak suku laut dari pulau lain yang ingin bersekolah harus mendayung sampan tiap pagi dan siang untuk belajar di Pulau Bertam.

Mencapai Bertam sebenarnya tidak sulit — naik kapal kecil (pancung) sekitar 20 menit sudah sampai. Masalahnya tidak ada rute reguler ke sana. Jalur itu jarang dilewati, jadi kalau mau ke Bertam kita harus siap menyewa satu pancung sendiri.

Menurut catatan kami per 23 Februari 2013, pulau ini dihuni 42 kepala keluarga dengan total 130 jiwa, termasuk 21 balita. Anak yang bersekolah di Bertam ada 55 orang: kelas I 17 anak, kelas II 11 anak, kelas III 9 anak, kelas IV 7 anak, kelas V 6 anak, dan kelas VI 5 anak. Mereka dibimbing 3 orang guru — dua dari Pulau Bertam, satu dari Pulau Kasu.

Bantuan untuk Bertam datang dari banyak pihak: pemerintah, lembaga, maupun perorangan. Bentuknya makanan, uang, sampai alat tulis.

Ibu Dar#

Salah satu tokoh yang punya andil besar memajukan pendidikan dan kesejahteraan di Bertam adalah Ibu Dar — begitu sapaan akrabnya. Setiap tahun beliau dan anggotanya tidak pernah lupa menyempatkan diri datang ke beberapa pulau untuk memberikan bantuan, dan dari semua pulau yang beliau datangi, Bertam-lah yang paling mendapat perhatian.

Di tangan beliau, warga suku laut yang dulunya makan, tidur, dan mencari nafkah di atas sampan kini punya tempat tinggal yang cukup layak. Rumahnya memang masih kayu dan bertumpu di atas laut, tapi lompatan itu sungguh berarti.

ILUSKA dan Komunitas Liverpool Batam#

Kemuliaan hati itu ternyata menular. Ada wadah alumni SMK Kartini Batam bernama ILUSKA (Ikatan Alumni SMK Kartini). Ini kedatangan kedua ILUSKA dengan tangan di atas, dan kali ini mereka tidak sendiri — ikut bersama komunitas anak-anak muda pencinta klub sepak bola Liverpool.

Ketika pembagian berlangsung#

Waktu kami datang, warga terlihat senang sekali — dari mata mereka tergambar bahwa kedatangan kami memang dinanti. Anak-anak sedang disiapkan gurunya di depan sekolah. Sekilas tidak ada beda dengan anak-anak lain, tapi kalau menengok ke belakang: anak-anak ini dulu bersekolah tanpa seragam dan alas kaki, dan membantu ayahnya mencari ikan di laut.

Pembagian paket sudah diatur sebelumnya: jumlah anak dan KK didata, nama masing-masing ditulis, lalu dipanggil satu per satu supaya tidak rebutan. Isi paketnya beras, mie, susu, kacang hijau, gula, tas, dan alat tulis — dibagi berdasarkan kategori balita, pelajar, dan rumah tangga.

Bantuan sembako dan alat tulis itu mungkin kecil bagi kita, tapi sangat berguna bagi mereka.

Anak-anak Pulau Gara#

Waktu hendak pulang, sekolah sudah usai. Kami sempat heran melihat anak-anak bergerombol menuju sampan — bukankah mereka tinggal di pulau ini? Ternyata tidak. Anak-anak itu warga suku laut Pulau Gara, pulau tetangga Bertam. Setiap pagi dan siang mereka mendayung sampan sendiri untuk bersekolah, tanpa didampingi orang tua.

Tekad belajar mereka luar biasa. Mereka buka sepatu dulu waktu naik sampan supaya tidak basah kena air laut, lalu memasangnya kembali waktu turun. Ada yang sampannya bocor sehingga harus terus menguras air. Ada yang kehilangan satu dayungnya dan tetap mendayung dengan satu dayung saja. Naik ke sampan pun tidak ada tangga — anak kecil itu harus hati-hati dan berpegangan kuat supaya tidak jatuh. Belum lagi sebagian dari mereka, sepulang sekolah, langsung membantu ayahnya mencari ikan di laut.

Bagi kita, anak-anak seumur itu seharusnya didampingi. Tapi begitulah keadaannya — dan justru di situlah kelebihan mereka: tidak menganggap kekurangan sebagai beban, menjalani apa yang sudah ditentukan untuk mereka karena itulah perjuangan.

Pemberian sembako itu hal kecil bagi kami, dan hal besar bagi mereka. Inilah indahnya saling berbagi untuk kebersamaan.

— Atas nama Keluarga Besar ILUSKA (Ikatan Alumni SMK Kartini) dan Komunitas Liverpool Batam, Sabtu, 23 Februari 2013.

Tanya AI tentang Berbagi di Pulau Bertam

Ngobrol soal: Berbagi di Pulau Bertam

Jawaban mengikuti pengetahuan publik sesuai halaman ini. Lihat tanya jawab · Hubungi BRO