Iseng-iseng yang bikin dewasa
Refleksi tentang keisengan era internet awal — dari gaya nyeleneh, belajar bahwa niat baik tetap butuh cara yang baik.
Ada satu tulisan di arsip blog lama yang tidak saya republikasi. Materinya sudah tidak cocok untuk ruang publik hari ini. Tapi ada pelajaran di dalamnya yang sayang untuk dibuang — catatan ini mengambil bagian yang baiknya saja.
Internet awal 2010-an adalah taman bermain#
Waktu itu banyak orang muda belajar batas lewat iseng. Coba-coba, nyeleneh, provokatif — di blog dan forum, gaya seperti itu masih dianggap wajar, bahkan kadang dianggap lucu. Rasanya internet adalah tempat latihan bebas, dan kita serasa jadi pengunjung paling berani di warnet se-Batam.
Pelan-pelan, lewat bertahun-tahun menulis dan dikomentari orang, saya belajar: taman bermain itu juga taman orang lain.
Iseng bukan ukuran niat baik#
Niat baik tetap butuh cara yang baik. Menegur bisa dilakukan tanpa mempermalukan orang di depan umum. Koreksi yang paling sering didengar adalah koreksi yang dibungkus adab. Kalau isengnya mengalahkan niatnya, hasilnya bukan perbaikan — cuma keributan.
Komentar orang mengubah kita#
Di kolom komentar tulisan-tulisan lama itu ada yang menegur dengan galak, ada yang menasihati dengan baik, ada juga yang sekadar lewat. Yang paling membekas ternyata bukan yang paling keras — melainkan yang menasihati dengan sopan dan tetap menawarkan jalan.
Dari situlah saya paham bahwa tolong-menolong dalam kebaikan lebih bertahan daripada sensasi sesaat. Orang lebih mudah diajak berubah kalau tidak dibuat malu.
Penutup#
Iseng itu fase. Dewasa itu keputusan. Sekarang, sebelum menulis apa pun, pertanyaan saya sederhana: apakah ini berguna, dan apakah caranya pantas? Kalau salah satu jawabannya tidak, ya simpan dulu — internet tidak kekurangan tulisan buru-buru.